Umar Badarsyah's Blog

A Yurist Learn To Be

Pilpres, Saatnya Bicara Substansi

Pilpres, Saatnya Bicara Substansi
17 Mei 2009
Oleh Umar Badarsyah

Babak koalisi partai-partai politik mengusung calon presiden dan wakil presiden baru saja usai. Pragmatisme menjadi kata kunci yang kita tangkap dari suguhan manuver sejumlah parpol pada babak tersebut. Kesamaan platform, visi, dan misi tidak menjadi bunyi utama dalam politik koalisi, yang tertangkap adalah soal kekuasaan, dan keterwakilan golongan dalam bentuk dagang sapi berupa portfolio jatah menteri. Continue reading

December 29, 2009 Posted by | Pemilu-Pilkada | , , , , , | Leave a comment

Pemimpin Muda, Harapan yang Tertunda

Pemimpin Muda, Harapan yang Tertunda

Oleh :Umar Badarsyah

Terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat berkulit hitam pertama dalan usia muda (47 tahun) membawa gairah menguatnya gagasan kepemimpinan muda di Indonesia. Namun realitas politik dan lemahnya sistem politik nasional dalam meregenerasi kepemimpinan menjadi kendala munculnya pemimpin-pemimpin alternatif pada pemilu 2009. Continue reading

December 29, 2009 Posted by | Kebijakan Publik, Pemilu-Pilkada | , , , , , | Leave a comment

Iklan Politik Belum Mencerdaskan

Iklan Politik Belum Mencerdaskan

By Umar Badarsyah

Suara Mahasiswa, Seputar Indonesia, Kamis 5 Februari 2009

Pemilihan Umum legislative tinggal tiga bulan lagi. Partai-partai terutama partai besar dan yang memiliki kekuatan dana, berupaya keras menaikkan citra dan popularitasnya dengan memanfaatkan iklan-iklan di media, baik cetak maupun elektronik. Sayangnya, iklan-iklan yang beredar di masyarakat kurang dalam segi pencerdasan politik.

Continue reading

December 29, 2009 Posted by | Kebijakan Publik, Pemilu-Pilkada | , , , , | Leave a comment

Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan

Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan

oleh Umar  Badarsyah

21 Mei 2008

Salus Publica Suprema Lex Esto

-Cicero

Mobil mikrolet nomor 17 jurusan Garut Kota – Wanaraja itu melaju menembus hujan lebat yang turun di Garut. Meski hujan deras tetapi suara lantang penceramah dari Toa sebuah masjid kampung yang dilalui terdengar oleh sang supir, kernet yang duduk di samping sang supir, seorang teman, penulis dan dua orang penumpang lainnya.“ahhh, masing keneh ajengan ge amun tos jadi pejabat mah ngabangsat (biarpun kiyai kalau sudah jadi pejabat pasti jadi bangsat),”ujar sang supir setengah berteriak. “ lain pajabat, penjahat I(bukan pejabat, penjahat),”timpal sang kernet. Penulis hanya bisa tersenyum, dalam tatapan heran teman yang kebetulan beretnis Jawa dan sama sekali tidak mengerti bahasa Sunda.

Apa yang diungkapkan oleh sang supir dan kernet itu pada dasarnya menunjukkan satu hal. Kepercayaan publik pada pejabat daerah dan sangat mungkin Pemerintah Daerah bahkan mungkin Pemerintah Pusat, apa pun latar belakang pejabat sebelumnya, teramat rendah. Mereka lelah dengan proses demokrasi politik bernama Pemilu atau dalam hal ini Pilkada yang selama ini tidak membawa dampak langsung bagi kehidupan ekonomi mereka, atau tepatnya kesejahteraan mereka. Continue reading

December 29, 2009 Posted by | Kebijakan Publik, Pemilu-Pilkada | Leave a comment