Umar Badarsyah's Blog

A Yurist Learn To Be

The Tide Turns against Israel


The Tide Turns against Israel

By Gilad Atzmon – London

Diterjemahkan secara bebas oleh Umar Badarsyah

Sumber : http://palestinechronicle.com/view_article_details.php?id=15756

London marah atas penggunaan identitas curian oleh para pelaku pembunuhan di Dubai dan mengarahkan kemarahannya kepada negara Yahudi berikut dinas intelijen Mossad-nya yang terkenal kotor.

Dubes Israel untuk Inggris, Ron Proseso dipanggil pada hari kamis oleh menteri luar negeri untuk ‘berbagi informasi’. Pada praktiknya Inggris sebenarnya telah berhenti melakukan tuduhan kepada keterlibatan Israel dalam skandal pembunuhan, meski demikian untuk menunjukkan ketidaksenangannya Kementerian Luar Negeri mengacuhkan permintaan Israel agar pemanggilan itu dilakukan secara diam-diam. “hubungan keduanya berada pada titik beku sebelum ini. Kini hubungan itu semakin membeku,” seorang petugas pemerintah Inggris mengatakan itu ke The Guardian.

Sebenarnya kemarahan Inggris terhadap Israel bisa menjadi sebuah tanda positif ke arah yang benar jika sekiranya kita mengabaikan fakta bahwa Menteri Luar Negeri David Miliband menginvestasikan upaya-upaya luar biasa untuk mengubah pendirian etis Inggris hanya untuk menenangkan Tzipi Livni, Ehud Barak dan para pemimpin Israel lainnya. Reaksi sang menteri saat ini akan nampak seperti pencerahan, sekiranya kita bisa melupakan bahwa lima minggu sebelum Israel melancarkan serangan mematikan terhadap Gaza, David Miliband mengunjungi Sderot, sebuah kota Israel dekat perbatasan Gaza dan menawarkan dukungannya.”Tidak ada negara yang bisa menerima pemboman konstan terhadap penduduknya”, Miliband mengatakan itu kepada penduduk Sderot. Dia kemudian melanjutkan, “Israel harus, di atas segala hal, melakukan upaya melindungi penduduknya sendiri”. Pernyataan bodoh itulah yang membuat kita semua kini bertanggung jawab terhadap ratanya Gaza. Mengingat fakta-fakta ini, nampaknya mustahil untuk membayangkan Duta Besar Israel berkeringat saat ‘berbagi informasi’ di depan Menteri Luar Negeri.

Dalam beberapa hari terakhir Robert Fisk melaporkan dari Timur Tengah untuk koran The Independent bahwa di Dubai tidak ada keraguan bahwa Inggris terlibat dalam aksi blunder Israel. “Paspor-paspor Inggris tersebut asli”, ungkap salah seorang sumber Fisk di Dubai.”Paspor-paspor itu berfoto hologram, dengan cap biometrik. Identitas itu tidak ditempa atau palsu. Nama-namanya tertera disitu. Kalau kau bisa memalsukan hologram atau cap biometrik, apa artinya ini?” Kebenaran harus benar-benar diungkapkan kalau begini. Terlebih, harian Israel Ynet melaporkan (mengutip Daily Mail) bahwa Israel telah menginformasikan Pemerintah Inggris bahwa agen-agen mereka akan melakukan “operasi di luar negeri” menggunakan paspor Inggris palsu. “Pemberitahuan itu bukan permintaan izin, tetapi lebih berupa basa basi saja.”

Jika Inggris bekerja sama dengan Israel pada level apapun, kita harus mengetahuinya, kita seharusnya mencari tahu apakah pelaku kerja sama itu adalah seseorang atau sebuah badan dalam pemerintahan atau dari dinas intelijen, atau hanya sekedar seorang sayan di Kantor Pemerintah Dalam Negeri atau kantor pemerintah lainnya (sayan adalah bagian unik dan penting dari operasi Mossad. Sayan atau asisten harus 100 persen Yahudi. Sayan mendukung tindakan Israel dan membantu operasi Mossad. Seorang agen veteran Mossad pernah mengatakan,” terdapat ribuah sayan di seluruh dunia. Di London sendiri, terdapat 2000 orang aktif dan 5000 lainnya ada dalam daftar.”). Jika memang ada kerja sama Inggris, kita harus mengidentifikasi apa bentuk sesungguhnya dari kerja sama itu, siapa yang memutuskan untuk melayani kepentingan berdarah Israel di tengah-tengah kita. Kita juga harus mencari tahu siapa di Inggris ini, yang menempatkan kepentingan dan keamanan Inggris di dunia Arab, berada dalam resiko yang membahayakan.

Seumas Milne dalam artikelnya di Guardian tidak merasa perlu menahan kata-katanya.”Alih-alih melakukan pemutusan hubungan diplomatik, pemerintah Inggris duduk berpangku tangan hampir seminggu sejak pertama kali dilaporkan detail dari penyalahgunaan paspor tersebut. Dan sementara Kementerian Luar Negeri akhirnya memanggil duta besar Israel untuk ‘berbagi informasi’, dari pada melakukan protes,Gordon Brown kemarin hanya bisa menjanjikan sebuah ‘investigasi menyeluruh’”.

Kebenaran masalah ini teramat tragis. Sistem politik Inggris dilumpuhkan oleh lobi Israel. Seperti Amerika Serikat, kepentingan-kepentingan nasional Inggris dikorbankan demi uang haram Zionist. Jika Inggris ingin memerdekakan diri dari genggaman Zionist dan memiliki prospek masa depan lebih baik, Inggris harus bergerak cepat dan membersihkan semua daftar penyudup Zionist dari jajaran politiknya, kantor-kantor pemerintahan, dan posisi-posisi strategis. Saya tidak mengatakan di sini tentang orang Yahudi. Saya tidak bermaksud menyinggung etnisitas atau ras. Saya berbicara mengenai afiliasi ideologis dan politis. Menimbang Zionisme adalah ideologi berdarah, rasis, dan ekspansionis, menjadi wajar untuk menekankan bahwa orang-orang yang berafiliasi terhadap Israel dan Zionisme harus dienyahkan segera dari jabatan atau pos politik, pemerintahan, maupun militer apapun.

Sebagaimana Inggris menerapkan keberhati-hatian dalam memberikan keputusan berkenaan dengan kepentingan keamanannya dengan Arab, Cina maupun orang-orang Rusia, semestinya Inggris juga memperlakukan hal yang sama kepada warga negara Yahudi sama besarnya.

Tapi ini kabar baiknya. Tidak seperti sistem politik Inggris yang telah terkooptasi oleh Zionis, orang-orang dan media Inggris sebenarnya sangat marah. Blunder Mossad, begitupun dengan impotensi institusi politik Inggris secara gamblang terekspose oleh pers Inggris. Hal itu dimuat di halaman depan semua harian Inggris, dan diulas di setiap tayangan berita TV.  Tidak ada lagi keraguan hari ini, bahwa kesabaran dalam menghadapi barbarisme Israel telah jelas-jelas semakin habis.

Beberapa tahun lalu Saya mendengarkan sebuah diskusi yang disampaikan oleh Dr. Mustafa Barghouti yang merujuk peristiwa tahun 1948 saat dunia diam menyaksikan 750.000 orang Palestina terusir dari tanah mereka, dari desa-desa dan kota-kota mereka lewat pembersihan etnis terencana yang disertai pembantaian-pembantaian. Dunia tetap diam ketika Israel memberlakukan hukum larangan pulang untuk mencegah orang-orang Palestina kembali ke tanah mereka. Di tahun 1967, dunia yang telah berkembang tidak hanya diam, tetapi malah memuji kegiatan ekstravaganza expansionis Israel. Dunia bertepuk tangan ketika Pasukan Pertahanan Israel membersihkan ribuan orang Palestina dari tanah bersejarah mereka.

Tapi kemudian segala sesuatu mulai berubah. Pada perang Libanon tahun 1982, dunia kebanyakan masih tetap diam saat 30.000 orang Palestina dan Libanon dibantai oleh Pasukan Udara Israel dan Pasukan Pertahanan Israel. Namun,  secara ajaib menyisakan sedikit orang yang bangkit dari lelap tidur mereka. Beberapa aktivis mulai menyadari bahwa orang-orang Palestina dan permaslahan mereka berada di jantung pertempuran mereka untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Saat intifada pertama dan kedua berlangsung semakin banyak orang yang menyadari bahwa Israel-lah sang agressor. Di tahun 2006 Israel sekali lagi melancarkan serangan total ke Libanon. Kali ini Israel meninggalkan 3.000 korban. Meski demikian, akibat dari tindakan brutal Israel ini mengakibatkan peningkatan drastis perasaan anti Israel. Bahkan pada faktanya, Perang Libanon ke-2-lah, bukan Perang Irak, yang telah menjadi katalis bagi kejatuhan politik Perdana Menteri Tony Blair. Blair mendapat bayaran politik langsung karena terlibat dalam perang. Pembantaian Gaza 2009 mengakibatkan 1.400 orang Palestina meninggal, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak., meninggalkan Gaza dalam kehancuran total, tapi sebagaimana kita ketahui, hal itu juga mengakibatkan gelombang kebencian anti Israel yang tinggi di semua tingkat media yang ada, di jalanan bahkan di PBB.

Pekan ini kita belajar tentang blunder pembunuhan terbaru dari Israel. Aksi itu telah membunuh seorang pemimpin militer Hamas. Kalau dulu Israel akan dipuji atas keberanian para pasukan pembunuhnya, yaitu orang-orang yang mengejar musuh-musuh Yahudi di tanah-tanah jauh dan seterusnya, reaksi pekan ini sangat berbeda. Negara Yahudi itu kini dipahami sebagai negara pariah.  Media Inggris dan orang-orang mulai melihat lebih dalam. Tidak ada satupun media Inggris yang berdiri membela Israel, tidak satupun yang mencoba untuk menjustifikasi atau membela tindakan Israel. Tidak ada yang mengulang pembicaraan bahwa Hamas adalah organisasi teroris. Saya mengira bahwa kini, orang-orang di luar sana mulai memahami bahwa Hamas adalah organisasi Palestina yang terpilih secara demokratis untuk memimpin. Orang-orang juga menyadari bahwa Hamas memiliki justifikasi untuk mengupayakan perjuangan legitimatif demi kemerdekaan.

As much as Israelis and their supporters try to tell us that the diplomatic backlash is fueled by merely technical matters such as “identity theft”, reading the British press convey a far deeper resentment to Israel, what it stands for and the way it operates. For a while some of us have been talking about remote signs that the tide is changing. As it happens, we are waking up into a new reality. The tide has changed already. Israel has exhausted the last drops of moral integrity, as if it possessed such integrity to start with. Britain and every Western country better move fast and identify the enemy within, those amongst us who support the Zionist project and convert us all into being complicit partners in Israel’s never ending sin.

Sebesar apapun orang-orang Israel dan para pendukungnya berupaya mengatakan kepada kita bahwa ketegangan diplomatik ini terjadi hanyalah karena persoalan teknis semacam“pencurian identitas” saja, tampaknya membaca pers Inggris, malah menunjukkan kemarahan yang lebih mendalam terhadap Israel, atas apa yang menjadi pendiriannya dan cara yang digunakannya.  Untuk beberapa waktu, sebagian dari kita telah membicarakan soal tanda-tanda bahwa arah gelombang itu telah berubah. Saat hal itu terjadi, kini kita telah masuk ke dalam realitas baru. Arah ombak itu telah benar-benar berubah. Israel telah kehabisan tetesan terakhir integritas moralnya, kalaupun sejak awal Israel memang memiliki integritas semacam itu. Inggris dan setiap negara Barat sebaiknya bergerak cepat dan mengidentifikasi musuh yang berada di dalam mereka, yaitu orang-orang yang berada di antara kita yang membela proyek Zionis dan merubah kita semua menjadi rekan setia Israel dalam melakukan dosa-dosanya yang tak berkesudahan.

-Gilad Atzmon adalah musisi jazz Inggris kelahiran Israel. Dia menulis masalah-masalah sosial dan politik, identitas dan budaya Yahudi. Artikel-artikelnya diterbitkan oleh banyak media seantero dunia. Dia mengkontribusikan artikel ini ke PalestineChronicle.com

Advertisements

February 24, 2010 - Posted by | Palestine-Israeli Conflict | , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: