Pilpres, Saatnya Bicara Substansi
Pilpres, Saatnya Bicara Substansi
17 Mei 2009
Oleh Umar Badarsyah
Babak koalisi partai-partai politik mengusung calon presiden dan wakil presiden baru saja usai. Pragmatisme menjadi kata kunci yang kita tangkap dari suguhan manuver sejumlah parpol pada babak tersebut. Kesamaan platform, visi, dan misi tidak menjadi bunyi utama dalam politik koalisi, yang tertangkap adalah soal kekuasaan, dan keterwakilan golongan dalam bentuk dagang sapi berupa portfolio jatah menteri. Read more »
Pemimpin Muda, Harapan yang Tertunda
Pemimpin Muda, Harapan yang Tertunda
Oleh :Umar Badarsyah
Terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat berkulit hitam pertama dalan usia muda (47 tahun) membawa gairah menguatnya gagasan kepemimpinan muda di Indonesia. Namun realitas politik dan lemahnya sistem politik nasional dalam meregenerasi kepemimpinan menjadi kendala munculnya pemimpin-pemimpin alternatif pada pemilu 2009. Read more »
Iklan Politik Belum Mencerdaskan
Iklan Politik Belum Mencerdaskan
By Umar Badarsyah
Suara Mahasiswa, Seputar Indonesia, Kamis 5 Februari 2009
Pemilihan Umum legislative tinggal tiga bulan lagi. Partai-partai terutama partai besar dan yang memiliki kekuatan dana, berupaya keras menaikkan citra dan popularitasnya dengan memanfaatkan iklan-iklan di media, baik cetak maupun elektronik. Sayangnya, iklan-iklan yang beredar di masyarakat kurang dalam segi pencerdasan politik.
Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan
Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan
oleh Umar Badarsyah
21 Mei 2008
Salus Publica Suprema Lex Esto
-Cicero
Mobil mikrolet nomor 17 jurusan Garut Kota – Wanaraja itu melaju menembus hujan lebat yang turun di Garut. Meski hujan deras tetapi suara lantang penceramah dari Toa sebuah masjid kampung yang dilalui terdengar oleh sang supir, kernet yang duduk di samping sang supir, seorang teman, penulis dan dua orang penumpang lainnya.“ahhh, masing keneh ajengan ge amun tos jadi pejabat mah ngabangsat (biarpun kiyai kalau sudah jadi pejabat pasti jadi bangsat),”ujar sang supir setengah berteriak. “ lain pajabat, penjahat I(bukan pejabat, penjahat),”timpal sang kernet. Penulis hanya bisa tersenyum, dalam tatapan heran teman yang kebetulan beretnis Jawa dan sama sekali tidak mengerti bahasa Sunda.
Apa yang diungkapkan oleh sang supir dan kernet itu pada dasarnya menunjukkan satu hal. Kepercayaan publik pada pejabat daerah dan sangat mungkin Pemerintah Daerah bahkan mungkin Pemerintah Pusat, apa pun latar belakang pejabat sebelumnya, teramat rendah. Mereka lelah dengan proses demokrasi politik bernama Pemilu atau dalam hal ini Pilkada yang selama ini tidak membawa dampak langsung bagi kehidupan ekonomi mereka, atau tepatnya kesejahteraan mereka. Read more »
-
Archives
- June 2010 (1)
- May 2010 (3)
- April 2010 (2)
- March 2010 (4)
- February 2010 (3)
- December 2009 (13)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS